KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU
1. Tanda dan Gejala
Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan di luar kavum
uteri. Sebagian besar kehamilan ektopik tidak dapat berlangsung hingga
sembilan bulan. Biasanya ibu akan mengalami beberapa gejala yang menyerupai
kehamilan normal. Bedanya tanda dan gejala kehamilan ektopik terganggu
disertai rasa sakit dan perdarahan.
Mual-Muntah
Meskipun bukan termasuk kehamilan normal, namun hormon kehamilan ibu meningkat sehingga
menimbulkan rasa mual dan muntah seperti ibu hamil pada umumnya. Gejala ini
hanya dirasakan sebagian ibu, sedangkan sebagian yang lain mampu beradaptasi
dengan baik. Mual-muntah pada ibu hamil berlangsung pada trimester pertama atau
hingga janin meninggal.
Amenore
Sejak terjadinya pembuahan, ibu tidak lagi mendapati haidnya.
Proses pematangan sel telur berhenti serta-merta ketika ibu positif hamil.
Gejala kehamilan ektopik ini sama dengan ibu hamil normal. Amenore akan
berlangsung hingga terjadi kematian janin atau robekan dinding tuba.
Nyeri Perut Bagian Bawah
Rasa nyeri adalah gejala kehamilan ektopik terganggu yang
paling utama. Nyeri ini disebabkan peregangan dinding tuba atau ruptur
tuba. Nyeri yang dirasakan ibu berbeda-beda tergantung penyebabnya. Nyeri
yang disebabkan ruptur tuba bisa membuat ibu pingsan. Namun, apabila janin
belum terlalu besar dan nyeri hanya disebabkan peregangan dinding tuba, maka
ibu hanya akan mengeluh sakit perut yang tidak seberapa.
Rasa nyeri juga dirasakan ibu pada pemeriksaan serviks uteri
dan kavum douglasi (tempat kosong diantara vagina dan anus). Selain itu,
kavum douglasi juga menonjol seperti tumor pada perabaan luar.
Penonjolan tersebut berasal dari embrio dan darah yang menggumpal. Penonjolan
pada kavum douglasi juga menyebabkan rasa nyeri saat buang air besar.
Perdarahan
Gejala kehamilan ektopik terganggu yang lain adalah
perdarahan pervaginam. Perdarahan ini disebabkan kematian janin, pelepasan
dinding rahim terluar, dan robekan dinding tuba. Perdarahan yang disebabkan
kematian plasenta dan peluruhan dinding rahim merupakan akibat dari gangguan
pembentukan HCG. Frekuaensi perdarahan berkisar antara 51 hingga 93%. Biasanya
perdarahan pada kehamilan ektopik terganggu berwarna coklat
tua.
Nyeri Bahu
Perdarahan dalam rongga perut dapat merangsang diafragma
sehingga menyebabkan nyeri bahu. Apabila darah dalam rahim menggumpal, maka
nyeri yang dirasakan akan bertambah parah, bahkan menjalar ke daerah lain
seperti punggung dan seluruh perut. Nyeri bahu ini tidak terjadi pada kehamilan normal.
Abnormalitas TTV
Gejala kehamilan ektopik terganggu yang terakhir adalah
abnormalitas tanda-tanda vital. Pada keadaan yang parah tanda vital ibu
menunjukkan adanya kegawatdaruratan. Tekanan darah ibu akan menurun disertai
dengan peningkatan denyut nadi dan sesak nafas. Keadaan ini memerlukan
pertolongan yang cepat untuk menyelamatkan nyawa ibu.
Ada berbagai macam faktor yang dapat menyebabkan kehamilan ektopik. Namun perlu diingat bahwa kehamilan ektopik dapat terjadi pada wanita tanpa faktor risiko. Faktor risiko kehamilan ektopik adalah :
1. Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
Risiko paling besar untuk kehamilan ektopik. Angka kekambuhan sebesar 15% setelah kehamilan ektopik pertama dan meningkat sebanyak 30% setelah kehamilan ektopik kedua.
2. Penggunaan kontrasepsi spiral dan pil progesteron
Kehamilan ektopik meningkat apabila ketika hamil, masih menggunakan kontrasepsi spiral (3 – 4%). Pil yang mengandung hormon progesteron juga meningkatkan kehamilan ektopik karena pil progesteron dapat mengganggu pergerakan sel rambut silia di saluran tuba yang membawa sel telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi ke dalam rahim.
3. Kerusakan dari saluran tuba
Telur yang sudah dibuahi mengalami kesulitan melalui saluran tersebut sehingga menyebabkan telur melekat dan tumbuh di dalam saluran tuba. Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan saluran tuba diantaranya adalah :
- Merokok : kehamilan ektopik meningkat sebesar 1,6 – 3,5 kali dibandingkan wanita yang tidak merokok. Hal ini disebabkan karena merokok menyebabkan penundaan masa ovulasi (keluarnya telur dari indung telur), gangguan pergerakan sel rambut silia di saluran tuba, dan penurunan kekebalan tubuh
- Penyakit Radang Panggul : menyebabkan perlekatan di dalam saluran tuba, gangguan pergerakan sel rambut silia yang dapat terjadi karena infeksi kuman TBC, klamidia, gonorea
- Endometriosis : dapat menyebabkan jaringan parut di sekitar saluran tuba
- Tindakan medis : seperti operasi saluran tuba atau operasi daerah panggul, pengobatan infertilitas seperti bayi tabung –> menyebabkan parut pada rahim dan saluran tuba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar